Malam itu, dihari ulang tahunku aku
menemuimu entah untuk apa. Aku membawakanmu sebungkus nasi lalu kita memakannya
bersama. Sejak itu kita menjadi akrab, sering bersama berbagi cerita, berbagi
tangis dan canda. Es cream dan rel kereta menjadi saksi kebersamaan kita. Kita
sering menghabiskan waktu untuk sekedar menikmati dinginnya Ice cream atau
menanti lewatnya kereta dan menikmati sensasi getarannya. Kamu suka karaoke,
dan aku sangat suka mendengarkannya. Aku suka menulis dan kamu suka membacanya.
Aku sering menangis, kamu selalu menenangkannya. Kamu sering galau dan aku
selalu berhasil membuat kamu tertawa. Kamu bilang aku manja, tapi kamu
yang lebih sering minta ditemenin kemana-mana. Banyak orang mempertanyakan
status kita, kita hanya tersenyum menjawabnya. Orang mengira ada yang special
diantara kita; saat itu mungkin iya melihat caramu memperkenalkanku pada
teman-temanmu, caramu memperlakukanku, dan kata-kata dalam setiap pesanmu. Tapi
nyatanya kita sendiri tidak pernah tau, tidak pernah menyadari, atau mungkin tidak
pernah mau mengakui. Aku tak peduli.
Aku membiarkannya berlalu hingga
akhirnya kamu pergi menemui mimpi. Amerika…ya, akhirnya kamu bisa menginjakan
kaki di benua yang yang jauh di sana. Sejak itu kita memulai babak baru. Kamu
pergi meraih mimpi, aku menjalani hidupku sendiri. Kadang aku rindu, dan begitu
bahagia setiap kali kamu menghubungiku. Kadang ingin sekali aku menemuimu untuk
sekedar menyapa dan tersenyum meski akhirnya aku urungkan karena gengsi. Tapi
itu tak bertahan lama. Aku pun akhirnya sibuk dengan hidupku, kamu
juga demikian dengan kehidupan barumu. Waktu lah yang kemudian menjawab apa
yang mungkin orang-orang pertanyakan tentang kita. Yah…sejak saat iku aku
merasa mulai bisa mendefinisikan perasaanku. Menyayangimu aku mengakuinya, tapi
keinginan memilikimu sepertinya tak ada. Kamu adalah teman, yang tentu aku
rindu jika lama tak bertemu. Kamu adalah sahabat, yang tentu aku ingin sapa
setiap saat. Aku suka cara Tuhan mempertemukan kita. Aku suka rasa yang Tuhan
titipkan pada kita yang tak pernah terdefinisikan dengan kata.
Aku kira Amerika benar-benar akan
memisahkan kita, ternyata tidak. Kita bertemu lagi setelah kamu kembali. Aku
ingat saat itu, di tempat itu, kamu memintaku membelikanmu ice cream dan kita
memakannya bersama. Pertemuan itu terasa berbeda, kamu telah dengan duniamu dan
aku dengan duniaku. Kita bercerita banyak hal, tapi sudah dengan bahasa yang
berbeda. Aku merasa terlalu berat untuk mengikutinya, meski akhirnya kita kembali
akrab karena ice cream dan coklat yang selalu berhasil mempertemukan kita.
Akhirnya aku pun kembali ke komunitas
yang kita bentuk bersama sebelum kamu ke Amerika. Ya, aku kembali ke sana dan
akhirnya kita makin dekat. Saat itu aku mulai merasa bahwa kamu benar-benar
sahabat. Beach Camp bersama Akber adalah
awal dimana aku menemukan sosokmu kembali, kamu yang dulu, yang manja dan
memanjakanku. Aku ingat bagaimana kamu berjuang melawan deras hujan melintasi
bebukitan mengendarai Meo kesayanganku sembari mendengarkan cerita konyolku,
padahal saat itu kamu tengah sakit dan tidak memberi tahuku. Kamu juga pasti
ingat bagimana aku mulai berani lagi menggodamu dengan coklat di malam
valentine. Coklat seharga 1000 rupiah special agar kamu mau mboncengin aku lagi
sampai rumah. Ternyata kamu masih seperti dulu, yang luluh dengan manjaku, atau
mungkin karena kamu nggak tahan lama-lama melihat muka manjaku makanya kamu
pura-pura luluh dengan coklat seharga seribu. Aku tak peduli.
Rencana Tuhan memang sebuah rahasia
besar. Siapa yang menduga setelah acara di pantai itu ternyata aku harus segera
pindah ke kost baru yang ternyata sangat dekat dengan kostmu yang jaraknya
bahkan tidak sampai 200m. Mulai dari sinilah cerita persahabatan baru kita
terjalin.
