Tentang kita #1


Malam itu, dihari ulang tahunku aku menemuimu entah untuk apa. Aku membawakanmu sebungkus nasi lalu kita memakannya bersama. Sejak itu kita menjadi akrab, sering bersama berbagi cerita, berbagi tangis dan canda. Es cream dan rel kereta menjadi saksi kebersamaan kita. Kita sering menghabiskan waktu untuk sekedar menikmati dinginnya Ice cream atau menanti lewatnya kereta dan menikmati sensasi getarannya. Kamu suka karaoke, dan aku sangat suka mendengarkannya. Aku suka menulis dan kamu suka membacanya. Aku sering menangis, kamu selalu menenangkannya. Kamu sering galau dan aku selalu berhasil membuat kamu tertawa. Kamu bilang aku manja, tapi kamu yang lebih sering minta ditemenin kemana-mana. Banyak orang mempertanyakan status kita, kita hanya tersenyum menjawabnya. Orang mengira ada yang special diantara kita; saat itu mungkin iya melihat caramu memperkenalkanku pada teman-temanmu, caramu memperlakukanku, dan kata-kata dalam setiap pesanmu. Tapi nyatanya kita sendiri tidak pernah tau, tidak pernah menyadari, atau mungkin tidak pernah mau mengakui. Aku tak peduli.

Aku membiarkannya berlalu hingga akhirnya kamu pergi menemui mimpi. Amerika…ya, akhirnya kamu bisa menginjakan kaki di benua yang yang jauh di sana. Sejak itu kita memulai babak baru. Kamu pergi meraih mimpi, aku menjalani hidupku sendiri. Kadang aku rindu, dan begitu bahagia setiap kali kamu menghubungiku. Kadang ingin sekali aku menemuimu untuk sekedar menyapa dan tersenyum meski akhirnya aku urungkan karena gengsi. Tapi itu tak bertahan lama. Aku pun akhirnya sibuk dengan hidupku, kamu juga demikian dengan kehidupan barumu. Waktu lah yang kemudian menjawab apa yang mungkin orang-orang pertanyakan tentang kita. Yah…sejak saat iku aku merasa mulai bisa mendefinisikan perasaanku. Menyayangimu aku mengakuinya, tapi keinginan memilikimu sepertinya tak ada. Kamu adalah teman, yang tentu aku rindu jika lama tak bertemu. Kamu adalah sahabat, yang tentu aku ingin sapa setiap saat. Aku suka cara Tuhan mempertemukan kita. Aku suka rasa yang Tuhan titipkan pada kita yang tak pernah terdefinisikan dengan kata.

Aku kira Amerika benar-benar akan memisahkan kita, ternyata tidak. Kita bertemu lagi setelah kamu kembali. Aku ingat saat itu, di tempat itu, kamu memintaku membelikanmu ice cream dan kita memakannya bersama. Pertemuan itu terasa berbeda, kamu telah dengan duniamu dan aku dengan duniaku. Kita bercerita banyak hal, tapi sudah dengan bahasa yang berbeda. Aku merasa terlalu berat untuk mengikutinya, meski akhirnya kita kembali akrab karena ice cream dan coklat yang selalu berhasil mempertemukan kita.

Akhirnya aku pun kembali ke komunitas yang kita bentuk bersama sebelum kamu ke Amerika. Ya, aku kembali ke sana dan akhirnya kita makin dekat. Saat itu aku mulai merasa bahwa kamu benar-benar sahabat.  Beach Camp bersama Akber adalah awal dimana aku menemukan sosokmu kembali, kamu yang dulu, yang manja dan memanjakanku. Aku ingat bagaimana kamu berjuang melawan deras hujan melintasi bebukitan mengendarai Meo kesayanganku sembari mendengarkan cerita konyolku, padahal saat itu kamu tengah sakit dan tidak memberi tahuku. Kamu juga pasti ingat bagimana aku mulai berani lagi menggodamu dengan coklat di malam valentine. Coklat seharga 1000 rupiah special agar kamu mau mboncengin aku lagi sampai rumah. Ternyata kamu masih seperti dulu, yang luluh dengan manjaku, atau mungkin karena kamu nggak tahan lama-lama melihat muka manjaku makanya kamu pura-pura luluh dengan coklat seharga seribu. Aku tak peduli. 

Rencana Tuhan memang sebuah rahasia besar. Siapa yang menduga setelah acara di pantai itu ternyata aku harus segera pindah ke kost baru yang ternyata sangat dekat dengan kostmu yang jaraknya bahkan tidak sampai 200m. Mulai dari sinilah cerita persahabatan baru kita terjalin.

0 comments:

Post a Comment

Leave a comment guys....so that i can improve myself.