created in 2010
Jika cinta datang, sambutlah dia dengan
kepahan senyuman. Dan jika cinta itu pergi, terbangkanlah dia dengan
sayap-sayap keikhlasan.
Terkadang
cinta memang bisa membuat yang maya jadi nyata dan sebaliknya. Sungguh luar
biasa memang, jika orang-orang melihatnya berjalan dengan penuh keangkuhan dan
menebar senyum dingin yang membekukan, di mataku langkahnya adalah alunan yang
memukau dan senyumlah adalah rekahan yang menghanyutkan.
Kak
Faiz, entah sejak kapan dia selalu terbayang dalam pikiranku. Dia angkuh, diam
dan terlihat apatis. Tapi dia benar-benar telah menyihir hatiku. Awalnya aku
tak pernah menghiraukan perasaan ini tapi, hingga detik ini perasaan ini justru
menguasai hatiku.
Hampir
setiap hari aku melihatnya di kampus, tapi aku hanya melihatnya jangankan
berkenalan tahu namanya pun karena dia panitia ospek saat aku terdaftar sebagai
mahasiswa baru tiga bulan yang lalu. Sungguh malang benar nasibku ini, seumur
hidupku inilah kali pertamaku jatuh cinta meski telah terhitung ada sepuluh
mantanku. Jangan ditanya, “Bagaimana
dengan kesepuluh orang itu?” karena aku sendiri tak tahu. Yang aku pikirkan
saat itu hanyalah gengsi, dimana makin banyak mantan makin keren pula diriku.
Ada
pepatah bilang ‘cinta datangnya tak dapat diduga, arahnya pun tak dapat di
tebak’. Yah… aku percaya itu karena kali ini aku benar-benar telah
merasakannya. Tapi, bagaimana dengan pepatah yang mengatakan ‘kalau cinta
jangan dikejar’ aku masih sedikit ragu. Dalam pikiranku masih menggantung tanda
tanya besar “Kalau tidak dikejar
bagaimana bisa ketemu?, bagaimana bisa berjodoh pula?”. Ah… entahlah untuk
saat ini aku tak mau memikirkan itu karena aku tak ingin menyesal karena tidak
memperjuangkan cinta pertamaku.
Pagi
sehabis sahur, aku bergegas menyiapkan mukena untuk sholat subuh berjamaah di
mesjid meski sebelumnya tak pernah kulakukan hal ini. Aku berdiri di depan
gerbang mesjid, dengan harapan bias melihatnya.
“Assalamu’alaikum,”
“
Wa’alaikum salam,” jawabku tersendat-sendat.
Aku
terdiam sesaat. Aku tak percaya suara merdu yang menyapaku itu adalah suara kak
Faiz.
“Ayo
masuk!” ucapnya lagi.
Awal
yang baik pikirku, hari ini ia mau manyapaku. Setelah kejadian pagi itu makin
giat usahaku menarik perhatian kak Faiz, mulai dari sholat berjamaah ke masjid
hingga aku mengganti semua pakaianku dengan gamis lebar. Memang awalnya terasa
sedikit tak nyaman karena meski aku telah terbiasa memakai jilbab aku tak
pernah memakai baju selonggar ini yang hampir membuatku seperti bantal yang tak
berbentuk. Biasanya aku hanya memakai celana jeans, kaos panjang dan jilbab
seadanya. Aku sempat berpikir, ‘apa perubahanku ini membawa berkah sedangkan
alasanku hanya karena seseorang?’ tapi, aku tak pernah sanggup untuk
memikirkannya lebih lanjut karena dalam otaku kini hanya ada kak Faiz.
Hari
demi hari hubunganku dengan kak Faiz semakin kian rekat, ia selalu menyapaku
dimanapun kita bertemu, bahkan ia sering mengajakku menghadiri acara-acara
diskusi di kampus. Dia telah banyak membawa perubahan bagi diriku. Terkadang
aku tertegun melihat diriku sendiri di cermin, sungguh berbeda dengan dirku
beberapa bulan silam. Memang cinta bisa merubah segala yang tak mungkin bagi
kita.
***
“Cinta
itu rasa, ia memberi tapi hanya mengharap rasa itu sendiri” jelas pemateri pada
acara diskusi sore itu.
“Berarti
cinta harus memiliki?” tanyaku penasaran.
“Tentu
tidak, kenapa kamu bisa Tanya seperti itu?” tanyanya balik yang membuatku
semakin gugup.
“Kalau
tidak saling memiliki bagaimana bisa memberi ‘cinta’ itu?” jawabku lantang,
sontak seisi ruang tersenyum sipu entah karena pertanyaanku lucu ataukah aneh.
“Begini
Olin, memberi kan tidak harus memberi langsung. Yang dimaksud memberi disini
itu mencurahkan perasaan kita secara tulus. Gini contohnya: Kita mencinta Allah
apa kita harus berinteraksi langsung? Tidak kan? Cinta yang didasarkan
keinginan memiliki itu justru membawa fitnah bukan berkah!” jelas kak Faiz yang
kemudian di iyakan oleh si pemateri.
Sementara aku hanya geleng-geleng kepala, paham tidak bingung juga tidak.
Benar-benar kak Faiz beda saat aku telah mengenalnya, dibalik keangkuhannya ia
punya inerbeauty yang luar biasa.
Dari
arahku duduk aku masih mendelik kagum tapi, dari sudut mataku terekam dua wajah
manusia yang tengah berbingar-bingar. Kak Faiz, sesekali ia melempar senyumnya
kearah gadis berkerudung panjang yang entah siapa namanya, begitu juga dengan
gadis itu, ia tak sungkan membalas senyum kak Faiz. Ah….Aku tak mau
bersu’udzon, prasangkaku berlalu begitu saja.
“Lin
ini minum dulu!” kak Faiz mengejutkanku sembari menyodorkansegelas air putih
kepadaku. Aku mengangguk menerimanya. Tak lama kemudian, gadis berkerudung
panjang yang ternyata bernama Nisa itu menyodorkan semangkok kolak pada kak
Faiz dan kak Faizpun memakannya. Ia bahkan tampak begitu menikmatinya, ‘itukah
yang seharusnya di lakukan seorang wanita ketika bersantap dengan seorang
laki-laki?’ tanyaku dalam hati.
Semalam
aku berpikir keras menimbang banyak hal hingga aku memutuskan untuk tidak
berlama-lama larut dalam perasaanku sendiri sementara harapan itu antara nyata
dan maya. Aku hanya ingin tahu apa maksud perhatian kak Faiz selama ini.
“Ada
apa Lin?” kak Faiz muncul dari arah lobi kemudian menghampiriku di taman.
“E..ee
itu kak” aku sedikit ragu mengucapkannya.
“Apa?”
tegasnya.
Belum
sempat aku menjawabnya Nisa muncul dengan rautnya yang menyimpan asa.
“Iz…!”
sapanya, Faiz sontak menoleh.
“Nisa,!
ada apa?” perhatian kak Faiz kini sepenuhnya untuk gadis itu. Sementara aku
berdiri termangu layaknya sutradara yang tengah mengatur adegan pertemuan dua
sejoli.
“Iz..
papa minta kita kesana secepatnya!” ucap gadis itu dengan mata berkaca-kaca
yang membuatku ikut iba dan bertanya ada apa.
“Lin
maaf kita ngomongnya lain kali aja, kaka ada keperluan.” Aku hanya mengangguk.
“Kita
cari taksi aja biar cepet!” ucap Nisa.
“Eh,
kalau emang buru-buru aku anterin aja, aku bawa mobil ko!” tawarku.
Tanpa
banyak bicara Nisa menerima tawaranku. Kami bergegas menuju salah satu rumah
sakit besar di Jakarta yang tak jauh dari kampus kami.
“Faiz..”
suara syahdu terdengar dari balik pintu, suara itu tak lain suara ayah Nisa
yang tengah tergeletak tak berdaya.
0 comments:
Post a Comment
Leave a comment guys....so that i can improve myself.